Hari ini saya hanya akan menuliskan sedikit kata untuk mengisi blog saya kali ini. Bukan karena saya malas menulisnya. Beberapa rekan pembaca mengeluhkan panjangnya blog yang saya tulis. Daripada konsumen menurun, sebaiknya saya juga melakukan inovasi biar dapat tetap eksis di pergulatan dunia blogger. Jangan salahkan saya!
Tadi malam saya bermimpi sedang berjalan-jalan berdua bersama seseorang berkharisma tinggi yang entah kenapa saya mengira-ngira dia adalah Tuhan Yesus. Saya bertanya-tanya, ke surga atau ke neraka-kah aku akan dibawa. Rasa ingin tahuku akhirnya terjawab. Saya dibawanya ke suatu tempat dimana banyak sinar berhamburan. Banyak orang tertawa-tawa panuh canda di bawah sana. Musik yang terdengar saat itu adalah lagu ‘Dangdut Is The Music Of My Country’. Inikah surga ? Saya yakin itu bukan surga. Dangdut itu musik ’suck’ Indonesia. Dan memang bukan. Itu pasar malam. Saya jadi bertanya lagi, apakah pasar malam lebih menarik daripada surga ? Apakah Dia sedang bercanda dengan saya ?
Seandainya saja saya dibawa ke surga atau neraka, mungkin saya bisa menceritakan pengalaman saya itu ke dalam sebuah buku yang pasti akan terjual sebagai Best Seller di seluruh dunia. Dan saya berubah haluan dari seorang Programmer / IT menjadi penulis buku kesaksian, pembicara di seminar, atau mungkin pendeta muda. Dan saya mencium bau uang… sayangnya tidak demikian…
Dia mengajak saya turun ke bawah. Berdiri diantara hiruk pikuk manusia. Pasar malam ini sepertinya tak asing bagi saya. Mirip dengan pasar malam yang biasa saya kunjungi waktu saya masih kecil. Saya bertanya kepadaNya, kenapa Ia mengajak saya ke sini ? Dan Dia menjawab : "Ya tidak apa-apa. Saya ingin ke sini. Itu saja."
Sekian….
Terlalu pendek ya ? Bukannya anda suka kalau blog saya tidak panjang-panjang ? Ya begini ini akibatnya. Jadi, lain kali biar saja blog saya ini panjang. Ok ? Uuuuh.. Benci Aku.. Sebel Aku.. Keki Aku.. Benci..! Baiklah, cukup sudah ngambek saya. Begini kelanjutan cerita di atas :
Memang, saya dapat merasakan banyak kebahagiaan di sekitar saya. Anak-anak kecil bergandengan tangan dengan orang tuanya sambil menarik ulur permen lolipop di mulutnya atau sambil membawa gula kapas sebesar kepala mereka. Saya mengikutiNya berjalan entah ke arah mana. Hingga sampailah pada seorang anak kecil sedang menangis tersedu-sedu seorang diri. Rupanya anak kecil ini tersesat dan kehilangan jejak orang tuanya. Dia mengusap air mata anak itu dan dengan kharismanya itu dia menenangkannya dengan mudah. Anak kecil itu tidak menangis lagi.
"Siapa namamu, nak? Di mana orang tuamu ?", kataNya
"Nama saya Nimas tapi kalau pagi saya jadi Thomas, saya tidak tahu dimana orang tua saya. Tadi mereka ada di sini. Saya takut…." kata anak itu.
Anak sekecil itu pasti ketakutan bila terpisah dengan orang tuanya di tempat asing seperti ini. Saya ingin membantu anak kecil itu. Tapi apa yang bisa saya lakukan ?
"Mari kita cari orang tuamu, nak. Mereka pasti juga mencemaskan kamu," kataNya sambil menggandeng tangan anak kecil itu.
Anak itu mengangguk dan menurut. Kami pun berjalan lagi. Dalam hati saya masih bingung kemana sebenarnya arah tujuanNya ? Akhirnya setelah berjalan sekitar 100 m, Ia berhenti dan mengangkat jariNya menunjuk ke sepasang manusia yang terlihat cemas dan kebingungan.
"Nah.. Itu mereka. Pergilah. Orang tuamu pasti mencemaskan kamu," katanya sambil tersenyum.
Anak kecil itu berlari sekencang-kencangnya ke arah orang tuanya. Nampak kedua orang tuanya begitu bahagia ketika mereka menemukan buah hati mereka yang sempat nyaris hilang.
"Ayo kita kembali," kataNya sambil membalikkan badan.
"Tidakkah kita perlu menyapa orang tuanya?", tanyaku.
"Tidak."
"Hah ? Kenapa tidak ?"
Dia menghela napas panjang namun tetap berkata dengan sabar kepadaku,
"Danny.. Danny.. Tidakkah kau mengerti mengapa kau kubawa ke sini ? "
"Tidak," jawabku polos seperti kelinci tidak berdosa. *tuink tuink*
"Danny.. dengarkanlah di dadamu, yang selalu berdetak tiada henti dan menyertaimu selama dia mampu."
"Jantungku?"
"Ya.. Benar. Karena dialah kamu bisa hidup. Sungguh baik bukan jantung itu ? Lebih dari itu juga, dia tidak sombong. Dia tidak pernah menonjolkan diri supaya semua orang tahu. Dia hanya berdetak dan berdetak dengan sederhananya."
"Ya.. saya mengerti."
"Hendaklah kamu seperti jantung, senantiasa berbuat kebaikan namun tetap rendah hati. Nikmatilah berbuat baik tanpa menonjolkan diri sendiri."
Hatimu akan merasa lega dan ringan. Kamu akan merasakan kedamaian di dalam hatimu.
Saya tidak dapat berkata-kata. UcapanNya itu sungguh terngiang terus menerus di telinga saya.
Dan pada detik selanjutnya, saya sudah berada di atas tempat tidur saya. Saya menyesal sudah terbangun sebelum saya sempat berfoto dengannya atau meminta nomor HPnya. Sayang sekali. Kemudian saya merenungkan kata-kata yang ada di dalam mimpi itu. Sepertinya saya pernah mendengar kata-kata itu.
Dan…. EUREKA!! Saya ingat itu kata-kata siapa!! Hehehe… Mau tahu ? Kasih comment dulu ya…