Religion Archive

Gospel of Altroz

“If you believe what they told you, why don’t you believe what I say?”

Chapter 1
Di sebuah tempat antah berantah bernama Nazareth, seorang anak berumur 12 tahun baru saja pulang dari tempat sembahyang yang disebut sebagai Bait Allah. Berjalan sambil menundukkan kepala sudah menjadi kebiasaannya. Sifat tertutupnya itu membuatnya tidak mempunyai banyak teman. Terlebih lagi dia adalah anak tunggal di keluarganya. Hal ini membentuk dirinya menjadi individu yang tidak banyak bicara dan suka menyendiri.

Keluarganya bukan termasuk keluarga yang bahagia. Bapaknya yang seorang tukang kayu itu sering mabuk-mabukan, dan melakukan kekerasan rumah tangga di rumahnya. Buruknya perekonomian di daerah jajahan Imperium Romawi itu membuat si Bapak gulung tikar. Korban dari kekejaman Bapaknya adalah Ibunya dan dirinya sendiri. Namun, Ibunya yang penyabar selalu senantiasa melindunginya.

Di perjalanan pulang itulah, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Karena membutuhkan uang, si Bapak terpaksa menjual anaknya untuk dijadikan budak. Sang Ibu pun tidak tinggal diam. Ia berusaha menghalangi suaminya dan menyuruh anaknya lari. Si anak dengan sangat ketakutan, lari sekencang-kencangnya demi menghindari kejaran si Bapak. Sambil berlari, hatinya begitu hancur. Ia tak pernah menyangka bahwa Bapaknya akan tega menjual dirinya.

Dia terus berlari hingga sebuah kulit pisang mengubah nasibnya. Kakinya menginjak kulit pisang tersebut dan akhirnya jatuh berguling-guling. Alhasil, si Bapak berhasil menangkapnya dan akhirnya menjual si Anak kepada seorang saudagar kaya dari Timur.

Hari itu juga, saudagar kaya ini membawa si Anak meninggalkan kota kelahirannya. Dengan langkah berat dan mata berlinang, si Anak berjalan ke dunia Timur.

Yang Putih atau Yang Hitam?

Seorang gembala sedang menggembalakan dombanya. Seorang yang
lewat berkata, “Engkau mempunyai kawanan domba yang bagus. Bolehkah saya mengajukan
beberapa pertanyaan tentang domba-domba itu?”

“Tentu,” kata gembala itu.
Orang itu berkata, “Berapa jauh domba-dombamu berjalan setiap hari?”
“Yang mana, yang putih atau yang hitam?”
“Yang putih.”
“Ah, yang putih berjalan sekitar enam kilometer setiap hari.”
“Dan yang hitam?”
“Yang hitam juga.”
“Dan berapa banyak rumput mereka makan setiap hari?”
“Yang mana, yang putih atau yang hitam?”
“Yang putih.”
“Ah, yang putih makan sekitar empat pon rumput setiap hari.”
“Dan yang hitam?”
“Yang hitam juga.”
“Dan berapa banyak bulu yang mereka hasilkan setiap tahun?”
“Yang mana, yang putih atau yang hitam?”
“Yang putih.”
“Ah menurut perkiraan saya, yang putih menghasilkan sekitar enam pon bulu setiap tahun kalau mereka dicukur.”
“Dan yang hitam?”
“Yang hitam juga.”
Orang yang bertanya menjadi penasaran.
“Bolehkah saya bertanya, mengapa engkau mempunyai kebiasaan
yang aneh, membedakan dombamu menjadi domba putih dan hitam setiap kali engkau menjawab pertanyaanku?”
Gembala itu menjawab, “Tentu saja. Yang putih adalah milik saya.”
“Ooo, dan yang hitam?”
“Yang hitam juga,” kata gembala itu.

Quoted from DOA SANG KATAK 2 (Anthony de Mello SJ)

Pikiran manusia membuat pemisahan-pemisahan yang bodoh, yang oleh Sang Kasih dilihat sebagai satu. Salah satunya adalah Agama.

No offence , but it’s true. An ingenuous opinion spoken by someone who ever failed in a relationship because of having difference in religion.

Nine Fridays

Akhir-akhir ini ada yang berubah dari Danny. Perubahan yang barangkali membuat heran orang-orang yang telah lama mengenal aku. Sembari sebagian orang masih tertegun, sebagian lagi hanya tersenyum dan mengatakan ‘good!’. Yup, akhir-akhir ini si kafir ini jadi suka ke gereja.

Apakah dunia sudah dekat kiamat? Ataukah Danny sudah gila? Karena kiamat tidak akan pernah datang, anggap saja Danny sudah gila. Apa sih yang dicari di gereja? Girls? Nope! Aku mencari sesuatu yang sekali lagi terdengar gila. Inspiration.

Pertama kali aku menyadari adanya inspirasi di Gereja adalah beberapa bulan lalu. Saat itu aku merasa jadi orang yang paling sial sejagat. Felt so hopeless. Tiba-tiba saja muncul keinginan untuk mencari ketenangan di tempat yang paling cocok untuk merenung. Gereja. Cuacanya biasa-biasa saja. Doaku biasa-biasa saja. Misanya juga biasa-biasa saja. Namun, setelah selesai misa, inspirasi itu datang. Sesuatu yang luar bisa terjadi tepat di depan mataku.

Inspirasi itu memukau nalarku, menyadarkan aku bahwa ternyata jagatku itu kecil. Ada yang lebih menderita ketimbang aku. Melihat itu membuatku merasa kehilangan hak untuk bersedih. Seolah-olah aku ditampar oleh Tuhan dan ditegur : "Everything happened upon you was nothing, Danny!"

Sejak itulah, setiap kali aku memerlukan inspirasi, di sanalah aku mencari dan menemukannya.

Nine Fridays
Seorang teman mengatakan bahwa seseorang mengikuti misa pagi setiap Jumat pertama selama 9x berturut-turut, insyaallah doanya terkabul. Tapi 9x jumat pertama sama dengan 9 bulan! Bagi manusia yang tiap hari terbiasa dengan sesuatu yang cepat, 9 bulan adalah waktu yang diluar batas waktu. Kenapa tidak 9x jumat tiap minggu saja? Mau enaknya saja!  (_ _!) Ya memang, siapa yang tidak mau enak. Let see if it works. Mari kita lihat 9 minggu lagi. Semoga permohonan kecilku berkenan bagiNya.

Dream : Satu Jam Bersama Tuhan di Pasar Malam

Hari ini saya hanya akan menuliskan sedikit kata untuk mengisi blog saya kali ini. Bukan karena saya malas menulisnya. Beberapa rekan pembaca mengeluhkan panjangnya blog yang saya tulis. Daripada konsumen menurun, sebaiknya saya juga melakukan inovasi biar dapat tetap eksis di pergulatan dunia blogger. Jangan salahkan saya!

Tadi malam saya bermimpi sedang berjalan-jalan berdua bersama seseorang berkharisma tinggi yang entah kenapa saya mengira-ngira dia adalah Tuhan Yesus. Saya bertanya-tanya, ke surga atau ke neraka-kah aku akan dibawa. Rasa ingin tahuku akhirnya terjawab. Saya dibawanya ke suatu tempat dimana banyak sinar berhamburan. Banyak orang tertawa-tawa panuh canda di bawah sana. Musik yang terdengar saat itu adalah lagu ‘Dangdut Is The Music Of My Country’. Inikah surga ? Saya yakin itu bukan surga. Dangdut itu musik ’suck’ Indonesia. Dan memang bukan. Itu pasar malam. Saya jadi bertanya lagi, apakah pasar malam lebih menarik daripada surga ? Apakah Dia sedang bercanda dengan saya ?

Seandainya saja saya dibawa ke surga atau neraka, mungkin saya bisa menceritakan pengalaman saya itu ke dalam sebuah buku yang pasti akan terjual sebagai Best Seller di seluruh dunia. Dan saya berubah haluan dari seorang Programmer / IT menjadi penulis buku kesaksian, pembicara di seminar, atau mungkin pendeta muda. Dan saya mencium bau uang… sayangnya tidak demikian…

Dia mengajak saya turun ke bawah. Berdiri diantara hiruk pikuk manusia. Pasar malam ini sepertinya tak asing bagi saya. Mirip dengan pasar malam yang biasa saya kunjungi waktu saya masih kecil. Saya bertanya kepadaNya, kenapa Ia mengajak saya ke sini ? Dan Dia menjawab : "Ya tidak apa-apa. Saya ingin ke sini. Itu saja."

Sekian….

Terlalu pendek ya ? Bukannya anda suka kalau blog saya tidak panjang-panjang ? Ya begini ini akibatnya. Jadi, lain kali biar saja blog saya ini panjang. Ok ? Uuuuh.. Benci Aku.. Sebel Aku.. Keki Aku.. Benci..! Baiklah, cukup sudah ngambek saya. Begini kelanjutan cerita di atas :

Memang, saya dapat merasakan banyak kebahagiaan di sekitar saya. Anak-anak kecil bergandengan tangan dengan orang tuanya sambil menarik ulur permen lolipop di mulutnya atau sambil membawa gula kapas sebesar kepala mereka. Saya mengikutiNya berjalan entah ke arah mana. Hingga sampailah pada seorang anak kecil sedang menangis tersedu-sedu seorang diri. Rupanya anak kecil ini tersesat dan kehilangan jejak orang tuanya. Dia mengusap air mata anak itu dan dengan kharismanya itu dia menenangkannya dengan mudah. Anak kecil itu tidak menangis lagi.
"Siapa namamu, nak? Di mana orang tuamu ?", kataNya
"Nama saya Nimas tapi kalau pagi saya jadi Thomas, saya tidak tahu dimana orang tua saya. Tadi mereka ada di sini. Saya takut…." kata anak itu.
Anak sekecil itu pasti ketakutan bila terpisah dengan orang tuanya di tempat asing seperti ini. Saya ingin membantu anak kecil itu. Tapi apa yang bisa saya lakukan ?
"Mari kita cari orang tuamu, nak. Mereka pasti juga mencemaskan kamu," kataNya sambil menggandeng tangan anak kecil itu.
Anak itu mengangguk dan menurut. Kami pun berjalan lagi. Dalam hati saya masih bingung kemana sebenarnya arah tujuanNya ? Akhirnya setelah berjalan sekitar 100 m, Ia berhenti dan mengangkat jariNya menunjuk ke sepasang manusia yang terlihat cemas dan kebingungan.
"Nah.. Itu mereka. Pergilah. Orang tuamu pasti mencemaskan kamu," katanya sambil tersenyum.
Anak kecil itu berlari sekencang-kencangnya ke arah orang tuanya. Nampak kedua orang tuanya begitu bahagia ketika mereka menemukan buah hati mereka yang sempat nyaris hilang.
"Ayo kita kembali," kataNya sambil membalikkan badan.
"Tidakkah kita perlu menyapa orang tuanya?", tanyaku.
"Tidak."
"Hah ? Kenapa tidak ?"
Dia menghela napas panjang namun tetap berkata dengan sabar kepadaku,
"Danny.. Danny.. Tidakkah kau mengerti mengapa kau kubawa ke sini ? "
"Tidak," jawabku polos seperti kelinci tidak berdosa. *tuink tuink*
"Danny.. dengarkanlah di dadamu, yang selalu berdetak tiada henti dan menyertaimu selama dia mampu."
"Jantungku?"
"Ya.. Benar. Karena dialah kamu bisa hidup. Sungguh baik bukan jantung itu ? Lebih dari itu juga, dia tidak sombong. Dia tidak pernah menonjolkan diri supaya semua orang tahu. Dia hanya berdetak dan berdetak dengan sederhananya."
"Ya.. saya mengerti."
"Hendaklah kamu seperti jantung, senantiasa berbuat kebaikan namun tetap rendah hati. Nikmatilah berbuat baik tanpa menonjolkan diri sendiri."

Hatimu akan merasa lega dan ringan. Kamu akan merasakan kedamaian di dalam hatimu.
Saya tidak dapat berkata-kata. UcapanNya itu sungguh terngiang terus menerus di telinga saya.

Dan pada detik selanjutnya, saya sudah berada di atas tempat tidur saya. Saya menyesal sudah terbangun sebelum saya sempat berfoto dengannya atau meminta nomor HPnya. Sayang sekali. Kemudian saya merenungkan kata-kata yang ada di dalam mimpi itu. Sepertinya saya pernah mendengar kata-kata itu.

Dan…. EUREKA!! Saya ingat itu kata-kata siapa!! Hehehe… Mau tahu ? Kasih comment dulu ya…