Series Edition Archive

Are you?

There’s no star. There’s no moon. The rain took them away. Below the watery sky, two striving between the cold. There’s no conversation except the noise of the nature. One minute, still silent. Five minutes, still silent.

The raindrops keep falling without a sound. Two faces were getting wet. Until once, their eyes meet each other and a voice was running to my ear..

"Are you crying, D?"

Series: The Bakery Initial R (Ep. 2)

Nama saya D, saya adalah mahasiswa Binus yang tengah kerja rodi tanpa bayaran di bakery ini.
Mulai hari ini saya akan mulai bekerja menjadi karyawan front office di Initial R Bakery. Sebelumnya, biar saya mendeksipsikan diri saya seperti apa. Saya tidak gemuk, tidak terlalu tinggi, bukan perempuan, tidak jahat dan tidak tampan.  Selengkapnya bisa anda lihat di Friendster. http://www.friendster.com/user.php?uid=5883999

Pagi hari saya sudah datang di toko dan siap memulai pekerjaan saya. Dalam hati saya, bunyi genderang sudah mulai ditabuh. Saya pun mulai merapikan showcase roti. Tepat 29,97 detik kemudian, saya baru ingat sesuatu. Saya belum makan dan sekarang kelaparan. Jadilah roti di showcase itu saya makan satu. ~_~ belum kerja apa-apa sudah merampok isi toko.

Hingga tengah hari, sudah banyak orang yang datang dan sudah banyak pula yang sudah saya habiskan. Semuanya aman terkendali, hingga pada suatu ketika, seorang Ibu bertampang jutek datang. Tapi ada yang bilang, "Don’t judge a book by it’s cover.". Well, let’s see…

D: "Ada yang bisa dibantu, Bu?"
I: "Saya mau pesan kue taart. Yang paling enak yang apa ya?"
D: "(weird question) Di sini enak semua, Bu. Bagaimana kalau Black Forest?"
I: "Yang paling besar harganya berapa?"
D: (busyet.. ini orang keren banget tanyanya..)
   "Ehmm… kalau mau 1 meter juga bisa, Bu. Tapi, yang paling besar biasanya ukuran 30×40 cm harganya Rp 400 ribu."
I: "Lho.. kok mahal?"
D: (memangnya mau beli krupuk? aneh…)
   "Memang segitu, Bu, harganya..)
I: "Yang lebih kecil?"
D: "300 ribu"
I: "Lebih kecilnya lagi?"
D: "250 ribu"
<– repeat it with step 50 thousands. until…>
I: "Saya pesan 2 deh yang bulat ukuran 18 cm harga 100 ribu. Dikirim besok ya. Tapi alamatnya menyusul.
Akhirnya Ibu itu pesan 2 taart dan anaknya.. he got nothing…

1 jam kemudian, telepon di toko berdering namun bukan saya yang mengangkatnya. Coba tebak siapa yang telpon! Tantowi Yahya dari Who Wants To Be Millionaire? Tet Tot..! (belum ada teman saya ikut kuis tersebut). Ibu tadi itulah yang telpon. Dia mau kasih alamat pengiriman plus mau mengubah tanggal pengirimannya, oiya, jenis kuenya juga berubah.. sh00t..

Celakanya lagi… menjelang toko tukup, Ibu itu telpon lagi dan membatalkan 1 kue pesanannya dengan alasan orang yang rencananya dia beri sedang di luar kota. Enough for today…

Hipotesis saya untuk hari ini hanya satu kata: "It’s suck!"

nb: hujatan-hujatan di atas adalah fiksi. Kesamaan nama, tempat dan kejadian hanyalah unsur kebetulan semata.

Series : The Bakery Initial R (Ep. 1)

Liburan kuliah selama 2 minggu ini saya sempatkan untuk pulang kampung. FYI, daerah asal saya, Malang, terlalu modern untuk disebut kampung. Ya, saya anak Malang. Aduh (_ _!), saya yakin anda mengartikan kata ‘malang’ sebagai sesuatu keadaan yang sial, tidak beruntung, kasihan or f*cking et cetera. FYI (lagi), "Malang" itu sebenarnya diambil dari bahasa Jawa yang artinya melintang atau menyilang. Hal ini disebabkan oleh letak geografis Malang yang berada di tengah propinsi Jawa Timur (ah… jangan-jangan anda tidak tahu kalau Malang itu di Jawa Timur).

Sedikit tambahan tentang kota Malang, kota ini dulunya sama penjajah sempat disebut Paris van Java. Mungkin anda mengira sebutan itu untuk kota Bandung. Dan memang benar sekarang demikian adanya. Kenapa bisa demikian? Well, Bandung dan Malang memang seindah Paris (minus Menara Eiffel). Tapi kami, orang Malang, mempunyai sifat rendah hati. Jadi kami merelakan sebutan tersebut untuk Bandung saja. Kami tidak ingin sombong ^^…. Cukup masuk akal kan? Tenang, ini bukan ajang narsis mengagungkan kota Malang.

Tujuan saya balik ke Malang ini dalam mengemban misi mulia membantu orang tua. Ya sekedar memperpanjang status saya sebagai anak berbakti dan memudahkan langkah saya untuk masuk dalam nominasi The Best Son In The World 2005 yang diadakan oleh UNICEF pada akhir tahun ini. Nah, seperti tahun-tahun sebelumnya juga, tahun ini saya juga menjadi volunteer di sebuah bakery bintang lima berinisial R di kota Malang.

Pada saat itulah jiwa IT saya bekerja. Terbersit keinginan saya untuk merancang sebuah analisis sistem untuk memodernisasi cara kerja di bakery tersebut. Diharapkan dengan komputerisasi di berbagai proses, bakery itu dapat menjadi lebih efisien dan efektif terutama dalam hal waktu. FYI untuk ketiga kalinya, dalam hari-hari yang sibuk seperti menjelang lebaran atau natal, melakukan pengecekan invoice, me-recap daftar pesanan, daftar pengiriman termasuk jadwal dari puluhan hingga ratusan order tiap harinya, sangat cocok untuk digambarkan dengan sebuah frase favorit teman saya, "nangis-nangis darah!"

Saya akan memberikan gambaran terperinci tentang lika-liku dunia bakery dengan metode fact finding di seri selanjutnya. Jika anda tahu bahwa Detektif Kindaichi selalu mempertaruhkan nama kakeknya dalam memecahkan berbagai kasus, kini saya juga akan mempertaruhkan nama baik kakeknya Kindaichi. Hitung-hitung ya sekalian lah… Ngapain juga bawa nama kakek segala…

Nantikan episode kedua dari rangkaian Series : The Bakery Initial R! Coming Soon!

5th June Trilogy: The Accident

Seorang Pria Baik-Baik Dianiaya Teman Sendiri Hingga Gila
Jakarta,  Daily Karmel

Imga0802Danny(nama samaran,-red), umur 20 tahun, ditemukan tak berdaya di rumah kostnya yang beralamat di Jl Karmel, Jakarta Barat, akibat dianiaya oleh beberapa orang yang ditengarai sebagai teman-teman kost si korban.
Melalui kartu identitas yang ditemukan bersama tubuh korban, diketahui bahwa anak Malang ini (Malang adalah sebuah nama kota di Jawa Timur) tengah tepat menginjak usia 20 tahun pada hari kejadian. Danny mengekost disana karena sedang melanjutkan studinya dan berstatus sebagai mahasiswa semester 4 Teknik Informatika Universitas Bina Nusantara Jakarta.

Motif ‘kejahatan’ ini diduga adalah balas dendam. Menurut informasi hasil investigasi tim Reserse Polda Metro Jaya terhadap para pelaku yang berhasil diamankan oleh petugas ini, pelaku awalnya hanya merayakan ulang tahun sang korban dengan sebuah taart coklat. Namun sesaat setelah lagu Happy Birthday didendangkan dan bendera merah putih dinaikkan, terbersit setitik akal busuk untuk melengkapi perayaan sederhana itu dengan sesuatu yang “indah”.

Konspirasi pun dijalankan. 2 orang menahan tangan korban yang sempat kaget sejenak sebelum dia berhasil menenangkan diri. 2 orang yang lain berusaha mengikat tangan korban dengan tali rafia tak bertuan. Beberapa pelaku yang lain mengaku hanya melihat dari jarak agak jauh dan 1 monyet (baca:orang) lagi dengan asyik, mendokumentasikannya.

Ag**, salah satu pelaku,  mengatakan kepada petugas bahwa korban tidak melakukan perlawanan apa-apa. Melainkan hanya tersenyum dan bahkan membantu pelaku mengikat kakinya sendiri ketika pelaku kesulitan mengikat dengan baik dan benar. CL*** membenarkan kesaksian temannya ini dan berani membuktikannya lewat dokumentasi yang dia ambil pada saat kejadian.

Peristiwa itu berlanjut dengan diikatnya si korban pada salah satu pilar utama rumah kost. Korban tidak dapat bergerak dan menerima berbagai siksaan tanpa perlawanan. Situasi makin panas walaupun es teh manis (super dingin) disiramkan ke tubuh korban. Karena ingin menekankan bahwa hal ini bukan kenyataan yang pait, para pelaku menyiramkan pula sebotol madu kaya rasa, enak dan bergizi. Namun keduanya tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kuah Pempek Palembang yang konon sudah basi 2 bulan yang lalu. Barang bukti ini saat ini sedang diperiksa di Laboratorium Kimia Rumah Sakit Jiwa terdekat dan belum diketahui hasilnya.

Balas dendam macam apakah yang sebenarnya dilakukan para pelaku ? Menurut narasumber yang dirahasiakan keberadaanya, sebenarnya peristiwa seperti ini sudah sering terjadi di kost tersebut. Para pelaku dari peristiwa ini adalah orang-orang yang menjadi korban pada saat kejadian sebelumnya. Jadi, mereka tidak terima bila sang korban tidak diberikan “pelajaran” yang sama.

Korban sendiri saat ini sedang dirawat secara intensif di Ruang 212 RS Graha Karmel. Tim dokter yang menangani kasus ini, mengatakan bahwa pada tubuh korban tidak ada bekas pukulan ataupun tusukan dengan benda tajam. Dokter hanya menemukan pada sekitar pundak korban, sebuah gejala yang dikenal dengan istilah “njarem” atau “nyeri otot”. Namun kata tim dokter tersebut, gejala ini ditemukan pada orang yang berolahraga. Gejala ini tidak ada kaitan langsung dengan kejadian penaniayaan itu. Selain itu ditemukan gejala non-relevan lain seperti masuk angin, batuk, pilek dan sariawan. Memang secara fisik, tidak ada luka yang berarti pada korban. Akan tetapi, saat ditemukan, korban terkena depresi super berat yang sangat mencemaskan. Berulang kali sang korban mengatakan “Aku lho nggak mabuk….”, dengan tertawa-tawa. Tim dokter angkat tangan terhadap syndrom ini. Sepanjang sejarah kedokteran, orang-orang yang terkena syndrom ini adalah orang-orang pintar dan bijaksana serta baik hati.

Atas kejahatan penganiayaan ini, para pelaku tidak dikenai hukuman apa-apa. Hal ini sempat mengundang protes dari kalangan sayap kiri yang menginginkan supaya para pelaku diadili. Namun karena tidak ada dasar yuridis yang mengatur tentang kejadian ini, maka pelaku bebas berkeliatan hingga detik ini. (dny)

inset : gambar korban sedang terkulai lemas di lantai saat dianiaya gerombolan pelaku.