Sebelum anda membaca ini, pastikan anda sudah membaca R.A.I.N Part 1.
14 Februari 2003,
Kemarin E sudah memberikan invitation card itu ke dia. Sepertinya dia tidak menduga acara ini hanya untuknya. That’s good. Aku begitu tidak sabar menunggu bel akhir sekolah padahal bel masuk pelajaran pertama baru saja berbunyi. Tiba-tiba seorang teman memberikan sekotak kado. ‘Titipan dari seseorang’, katanya. Could be her? Ternyata bukan dia, tetapi anonymous. Walaupun hanya 6 jam pelajaran, hari ini terasa lama sekali. Akhirnya jam pulang itu datang juga. Sesuai rencana, E akan datang ke rumahku jam 4 dan mengantar aku ke rumah S (poor me.. I didn’t have a car) sambil membawa beberapa barang dari rumahku. Sesampai di rumah S, S sudah bersiap-siap pergi ke Surabaya, dan tinggallah aku di sana. Waktunya bersih-bersih. Perlu waktu sekitar 2 jam untuk menyiapkan segalanya, mulai dari menyapu, menata lilin, dan mandi. Now it’s perfect.
Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Saat ini E, K dan dia sudah di perjalanan ke rumah S. Dia ditutup matanya sehingga tidak tahu akan dibawa kemana. Tidak lama kemudian, E mengirim SMS tanda dia sudah dekat. It’s show time, wish me luck.
Lampu sudah dipadamkan dan kini ruangan itu hanya diterangi remang-remang lilin-lilin kecil saja. Di balik pintu itu, dia masih tertutup matanya dan aku berdiri menunggunya masuk sambil membawa bunga spesial itu. Dag, dig, dug rasanya tidak karuan. E dan K mengantar dia ke ruangan itu dan membuka tutup matanya. Setelah itu mereka langsung kabur meninggalkan aku dan dia. Berdua.
Lagu ‘First Love - Utada Hikaru‘ memasuki intronya. Dan dia berusaha menyesuaikan matanya yang cukup lama merasakan gelap, kini harus melihat cahaya lilin. Dia bingung dengan apa yang dia lihat. Namun reaksinya tidak yang terlalu ‘wah’. Cukup mengherankan memang. Setelah dia melewati jalan setapak itu, aku menyerahkan bucket bunga itu dan menyuruhnya duduk.
Tenderloin special* (* = rasa tidak ditanggung) kubawa dari dapur ke meja makan, dan aku membuka botol Sparkling Grape yang sudah tersedia di meja. Sambil menikmati "steak" itu, aku dan dia membahas tentang ini semua. Dan dia cuma terheran-heran saja. Dia tahu dimana dia berada, karena S adalah teman baiknya dan dia pernah ke rumah ini sebelumnya.
Puncaknya adalah ketika makan malam selesai dan dia beranjak dari kursinya dan saat itu lagu ‘When A Man Loves A Woman‘ mengalun. Apakah ini sudah diatur? Jawabnya, sudah!
I hold her from her back, and I say ‘ would you be {censored}…’
It’s a perfect moment. So… perfect.
I will let you decide the ending of this story by yourself. Still, let me remembering this irreplaceable night in the middle of the rain…
A memorable good from that night:

Tutup botol Sparkling Grape itu masih tersimpan dengan baik hingga sekarang dan akan selalu menjadi saksi bisu kejadian malam itu.
Thousand thank you to my friends who helped me beneath my wings. That night would never be existed without your supports, guys. Happy Valentine Day!
PS: Do you still remember that irreplaceable night.., Me?