Series Edition Archive

P.E.A.C.E: People Everywhere Are Created Equal

P.E.A.C.E: People Everywhere Are Created Equal
imagine

Imagine P.E.A.C.E @ Strawberry Field

I just want to tell you PEOPLE
Not only here nor there, but all of you in EVERYWHERE
You and me; we, ARE same as humans
We might be CREATED different each other
But I believe, in front of God, we’re EQUAL.

No matter what your religion is,
No matter how you look like,
And no matter what you are fighting for
Please, let’s give peace a chance..

Gospel of Altroz

“If you believe what they told you, why don’t you believe what I say?”

Chapter 1
Di sebuah tempat antah berantah bernama Nazareth, seorang anak berumur 12 tahun baru saja pulang dari tempat sembahyang yang disebut sebagai Bait Allah. Berjalan sambil menundukkan kepala sudah menjadi kebiasaannya. Sifat tertutupnya itu membuatnya tidak mempunyai banyak teman. Terlebih lagi dia adalah anak tunggal di keluarganya. Hal ini membentuk dirinya menjadi individu yang tidak banyak bicara dan suka menyendiri.

Keluarganya bukan termasuk keluarga yang bahagia. Bapaknya yang seorang tukang kayu itu sering mabuk-mabukan, dan melakukan kekerasan rumah tangga di rumahnya. Buruknya perekonomian di daerah jajahan Imperium Romawi itu membuat si Bapak gulung tikar. Korban dari kekejaman Bapaknya adalah Ibunya dan dirinya sendiri. Namun, Ibunya yang penyabar selalu senantiasa melindunginya.

Di perjalanan pulang itulah, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Karena membutuhkan uang, si Bapak terpaksa menjual anaknya untuk dijadikan budak. Sang Ibu pun tidak tinggal diam. Ia berusaha menghalangi suaminya dan menyuruh anaknya lari. Si anak dengan sangat ketakutan, lari sekencang-kencangnya demi menghindari kejaran si Bapak. Sambil berlari, hatinya begitu hancur. Ia tak pernah menyangka bahwa Bapaknya akan tega menjual dirinya.

Dia terus berlari hingga sebuah kulit pisang mengubah nasibnya. Kakinya menginjak kulit pisang tersebut dan akhirnya jatuh berguling-guling. Alhasil, si Bapak berhasil menangkapnya dan akhirnya menjual si Anak kepada seorang saudagar kaya dari Timur.

Hari itu juga, saudagar kaya ini membawa si Anak meninggalkan kota kelahirannya. Dengan langkah berat dan mata berlinang, si Anak berjalan ke dunia Timur.

Tale of The Stairs (Version 2)

Dedicated to all who will say: "It was nothing to do with me!"


"Siapa kamu?", Iblis menanyainya.

"Aku adalah orang kecil dan semua orang gembel adalah saudaraku. Sungguh kejam dunia ini, sungguh menderita manusia."

Seorang anak muda berbicara dengan menaikkan dagu dan tangan terkepal. Dia berdiri di dasar tangga-sebuah deretan anak tangga berlantai marmer. Dia memandang jauh ke arah suramnya kemiskinan bagai air keruh.

"Aku adalah orang kecil dan semua orang gembel adalah saudaraku. Sungguh kejam dunia ini, sungguh menderita manusia. Tapi kalian yang di sana, kalian yang di atas sana..". Anak muda itu yang berkata dengan menaikkan dagu dan tangan terkepal marah.

"Jadi kau membenci mereka yang di atas?", tanya Iblis menghalangi jalan anak muda itu.

"Aku akan membalas dendam pada bangsawan-bangsawan dan pangeran-pangeran itu. Aku akan membalaskan saudara-saudaraku, saudaraku yang wajahnya pucat seperti pasir dan mengerang seperti kilat bulan Desember. Lihatlah badan mereka yang berdarah-darah, dengarkan teriakan mereka. Minggirlah!"

Sang Iblis tersenyum, "Aku adalah pelindung mereka yang di atas dan tanpa menyuapku, aku tidak akan mengkhianati mereka."

"Aku tidak punya emas. Aku tidak punya apa-apa untuk menyuapmu. Aku miskin, pemuda gembel… Tapi aku rela menyerahkan hidupku…"

Sang Iblis kembali tersenyum: "O.. tidak.. Aku tidak minta sebanyak itu. Berikan saja pendengaranmu."

"Pendengaranku? Dengan senang hati. Dapatkah aku tidak pernah mendengar apapun lagi?"

"Kau akan tetap bisa mendengar", Iblis meyakinkannya lalu membuka jalan untuk pemuda itu. "Lewatlah.."

Pemuda itu bersiap-siap berlari ke atas, namun setelah 3 langkah, tangan Iblis menangkapnya.

"Cukup! Sekarang berhentilah dan dengarkan saudara-saudaramu berteriak di bawah"

Pemuda itu berhenti lalu mencoba mendengarkan.

"Aneh, Kenapa mereka mendadak mulai bernyanyi lagu bahagia dan tertawa dengan suka cita?

"Supaya kau bisa naik 3 langkah lagi, berikan matamu."

Pemuda itu menunjukkan muka memelas, "Tapi, kalau begitu aku tidak bisa melihat saudara-saudaraku dan mereka-mereka yang akan aku hukum.."

"Kau akan tetap bisa melihat mereka.. Kuberikan gantinya, mata yang lebih indah."

Pemuda itu naik 3 langkah dan melihat ke belakang.

"Lihat tubuh berdarah-darah saudaramu yang telanjang itu..", bisik Iblis

"Ya Tuhan, aneh sekali! Sejak kapan mereka memakai baju bagus dan tidak terluka lagi.."

Selanjutnya terulang kembali pertukaran antara pemuda dan Iblis, hingga pada anak tangga terakhir sebelum puncak. Selangkah lagi, pemuda itu bisa membalaskan dendam saudaranya.

"Anak muda, tinggal selangkah lagi kamu bisa membalas dendammu. Tapi untuk langkah terakhir ini, aku akan menggandakan taruhannya. Berikan hati dan ingatanmu."

Anak muda itu protes, "Hatiku? Tidak! Itu terlalu kejam!"

Iblis itu tertawa, "Aku tidak sekejam yang kau bayangkan. Sebagai imbalannya, aku akan memberikan hati emas dan ingatan yang baru. Tapi bila kau menolaknya, maka kau tidak akan pernah bisa membalaskan dendam saudaramu yang wajahnya sepucat pasir dan mengerang seperti kilat bulan Desember.

Anak muda itu melihat ironi di mata Iblis itu.

"Tapi nanti tak akan ada orang yang pernah semenderita aku. Kau mengambil semua kemanusiaanku."

"Sebaliknya, tidak ada yang lebih senang daripada kamu. Jadi, kau setuju? hanya hati dan ingatanmu."

Anak muda itu terdiam, mukanya mendung, keringat berlari melewati alisnya, dengan nada geram dan tangan mengepal keras dia berkata : "Baiklah, ambillah!"

Seketika itu juga, kegelapan di sekitarnya menghilang. Kini dia berada di anak tangga yang paling atas. Dan senyuman lebar tiba-tiba muncul di wajahnya, matanya kini melukiskan kedamaian dan tangannya pun tak lagi terkepal. Dia melihat pada para bangsawan yang sedang bergembira lalu melihat ke bawah. Mukanya terlihat puas. Keramaian di bawah sana telah berubah menjadi ketenangan dan teriakan itu sekarang menjadi lagu merdu.

"Siapa dirimu?", tanya Iblis dengan perlahan.

"Aku terlahir pangeran dan dewa adalah saudaraku. Indahnya dunia ini dan begitu bahagianya manusia!"

—–

* diterjemahkan dengan seadanya dan tidak seksama dari ‘Tale of the Stairs’ karya Hristo Smirnenski (1923).

Tale of The Stairs (Version 1)

Ini adalah pertanyaan yang aku tanyakan kepadanya saat masih di SMA. Pertanyaan itu muncul saat menaiki tangga di sekolah. Dia berjalan di depanku, dan saat dia hampir mencapai anak tangga terakhir, aku menyuruhnya berhenti.

"Lihat, barangkali seperti ini keadaan kita. Kamu ada di atas sana, sedangkan aku masih di tengah-tengah. Kamu hanya selangkah lagi dari mencapai ujung, tapi aku tidak. Aku lelah. Aku tidak yakin bisa menaikinya lagi atau tidak.
(1) Apakah kamu akan terus berjalan sampai aku berhasil menyusulmu? atau…
(2) Apakah kamu akan menungguku di tempatmu berdiri sekarang hingga aku ke sana? atau..
(3) Apakah kamu akan turun ke sini dan membantuku naik ke sana? atau….
(4) Apakah kamu akan melupakan tujuanmu sejenak dan menemaniku duduk di sini?"

Dan sampai sekarang pun aku menantikan jawabannya…..

Btw, apa pilihan anda?

S.T.O.P (Save The Oil, Please)

Ketika anda sedang membaca blog ini, pada waktu bersamaan, dunia sedang ribut gara-gara harga minyak dunia yang sedang bergejolak. Pad saat saya masuk kuliah, September 2003, harga minyak dunia masih berkisar $25/barel. Namun sekarang ini, 5 tahun kemudian, harga minyak sudah meroket menjadi $120/barel.

Bila anda penasaran kenapa harga minyak begitu melonjak, berikut ini alasannya:
1. Kebutuhan akan minyak meningkat pesat terutama di China dan India.
2. Quota produksi minyak tidak berubah
3. Bencana alam, gangguan keamanan seperti terorisme dan perang mengganggu produksi dan supply minyak. Misalnya di Irak, Lebanon, dan Afrika Barat.
4. Aktivitas para spekulan.
5. Melemahnya dolar, karena dolar jadi acuan perdagangan minyak.

Sebenarnya, harga minyak bisa turun, asalkan manusia mau mengurangi ketergantungan akan minyak. Pengurangan ini sebenarnya tidak susah untuk dilakukan. Berikut ini yang bisa kita lakukan dengan cara yang mudah:
1. Mematikan lampu saat tidur( kalau takut gelap, tidurnya minta ditemenin orang tua atau pacar atau temen sekos deh…). Hemat energi erat kaitannya dengan masalah minyak ini.
2. Tidak menonton TV saat acaranya Sinetron dan Infotainment. Selain menghemat listrik, juga menghindarkan anda dari pembodohan masal.
3. Mencari tempat kerja yang dekat dengan tempat tinggal.
Simulasinya sebagai berikut: Misalnya rumah anda di Tangerang dan anda bekerja di Kawasan Pulogadung. Jaraknya kira-kira 40 km sekali jalan. Dalam sebulan anda menempuh (20×2x40km) 1600km hanya untuk bekerja. Seandainya anda adalah pengguna mobil dengan ratio konsumsi bensin 1:8, maka anda menghabiskan 200 Liter per bulan atau setara dengan Rp 900.000,-. Itu untuk anda seorang. Masalahnya tidak sedikit yang nasibnya seperti di atas. Dengan mencari kerja di Karawaci misalnya yang hanya berjarak 5 km, anda menghemat 175 Liter per bulan. Angka yang cukup signifikan untuk satu orang.
4. Menukarkan mobil anda dengan motor atau sepeda gunung. Kelebihannya: lebih cepat, lebih murah, lebih sehat. Takut polusi? Kan semua orang sudah jual mobilnya :) hehehe…
5. Taat hukum dan menahan diri tidak melakukan kejahatan. Hubungannya dengan faktor keamanan. Jika keadaan aman, orang tidak takut menggunakan transportasi umum, jumlah kendaraan pribadi bisa ditekan.
6. Mengurangi frekuensi SMS dan komunikasi via HP. Walaupun di tengah perang tarif antar operator yang sampe puas dan sampe ga bisa dibuat telpon (network busy melulu), kurangilah ketergantungan anda. Semakin sering anda menggunakan HP, semakin sering anda harus mengisi ulang baterai anda. Selain itu, terlalu sering menggunakan HP dapat merusak kesehatan anda.
7. Jangan bunuh diri dengan cara membakar diri. Bahan bakar yang digunakan untuk membakar diri setara dengan jumlah yang dibutuhkan untuk menggoreng 750 potong tempe. Juga berlaku untuk bunuh diri dengan cara menenggak minyak tanah.
8. Tidak perlu melakukan aksi bakar ban ketika sedang berdemo. Pembakaran ban akan menyebabkan polusi karbon di udara serta menyia-nyiakan bahan bakar minyak.
9. Stop korupsi! Hubungannya? Aduh.. susah jelasinnya. Yang penting, jangan korupsi! Titik!
10. Ajukan petisi atau apalah namanya yang mengharamkan BBM. Dijamin pengaruhnya besar sekali. Minyak tidak akan ada harganya karena orang tidak mau menggunakannya.

Khusus untuk mereka yang sudah tidak bisa hidup tanpa internet dan komputer:
1. Matikan komputer anda jika tidak ada di tempat. Tidak perlu pamer status away / sedang tidak ada di tempat / lagi tidur / dsb. Buat apa online kalau tidak bisa diajak bicara? Juga, jangan menyalakan komputer dari malam sampai pagi hanya untuk download film / software bajakan / mp3.
2. Kurangi frekuensi mendengarkan lagu MP3. Jika ingin mendengarkan musik, bernyanyilah sendiri! Lebih asli, bagus buat otak, dan hemat biaya.
3. Jangan menulis blog terlalu panjang. Blog yang panjang akan membutuhkan banyak waktu untuk dibaca dan untuk membaca, diperlukan energi listrik untuk menyalakan CPU, monitor, modem dan lain-lain.

Y.O.U: Yes, Only U

Adalah Kau,
yang selalu membangunkanku di setiap pagi,
yang menyediakan makanan 4 sehat 5 sempurna di setiap saat,
yang memberiku kado istimewa di setiap hari ulang tahunku,

yang mendengarkan semua keluh kesahku,
yang menemaniku disaat ku merasa kesepian,
yang memapahku berjalan ketika kakiku terluka,
yang menghangatkanku di tengah dinginnya malam,
yang menyemangatiku ketika aku membutuhkan dukungan,
yang menghiburku dengan gayamu yang mengundang tawa,
yang memberikan sayapnya kapanpun aku ingin terbang,
yang menceritakan kisah indah masa lalu sesaat sebelum terlelap,
yang memahami ambisi dan keegoisanku,
yang membesarkan hatiku bila aku menemui kegagalan,
yang menenangkan pikiranku saat aku sedang gelisah,
yang menuntunku ketika aku kehilangan arah,Forgetmenot
yang menerangiku di tengah gelap gulita,
yang mengingatkanku bahwa tak ada yang sempurna,
yang mempercayakan harapannya di pundakku,
yang menyertakan aku dalam setiap doanya.

Hanya satu yang kau minta
Setangkai bunga abadi
Yang terpupuk oleh cinta
Dipetik dari taman hati

Q.U.I.T (Quietly Untold Inmost Thought)

Sesaat setelah kilatan cahaya itu, semuanya menjadi gelap. Semuanya menjadi sunyi. Dimanakah aku sebenarnya? Diantara gelap itu, samar-samar aku bisa melihat sebuah pintu. Di pintu tersebut terukir sebuah tulisan yang membuatku terperanjat. Begini bunyi tulisan itu: ‘Selamat, anda sudah mati. Silahkan lanjutkan perjalanan anda di balik pintu ini. Sekali lagi, selamat!’

Tak percaya semua ini, aku berusaha mengingat-ingat kembali apa yang terjadi. Yang kuingat adalah aku sedang menaiki motorku sendirian di tengah hujan. Jalanan tak begitu terlihat, dan tiba-tiba saja aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Ketika aku berusaha bangkit, dari arah seberang, sebuah mobil berkecepatan tinggi menghampiriku. Itulah hal yang terakhir yang aku ingat.

Setelah aku membuka pintu itu, yang kulihat adalah sebuah koridor yang begitu indah. Penuh dengan dekorasi layaknya istana. Aku membaca sebuah pesan yang tertera di hadapanku. "Selama anda berjalan, pikirkanlah jawaban dari pertanyaan yang akan lihat." Aku tak mengerti apa maksudnya dan kemudian mulai berjalan.

Tak lama kemudian aku melihat pertanyaan pertama di sebuah papan kecil di hadapanku. "Apakah anda merasa hidup anda indah? ". Pertanyaan yang aneh kataku dalam hati. Sambil berjalan, aku mulai memikirkannya. Setelah beberapa saat, aku melihat pertanyaan kedua, "Berapa kali anda mengampuni orang lain?". Dan seterusnya pertanyaan-pertanyaan lainnya muncul.

Setelah beberapa pertanyaan, aku merasa jenuh. Dan aku tidak memikirkan jawaban lagi ketika muncul pertanyaan, "Siapakah orang yang paling berjasa dalam hidup anda?" Namun, ketika aku tidak menentukan jawaban dari pertanyaan itu, yang kujumpai selanjtunya malahan adalah sebuah pesan, "Pikirkanlah dengan baik.". Mau tidak mau, aku pun memikirkannya kembali. Berbagai nama dan wajah orang bermunculan dalam pikiranku. Mulai dari orang tua, sahabat, rekan kerja, kuliah, teman masa kecil hingga pembantu di rumah.

Pertanyaan berikutnya membuatku berpikir lebih berat. "Hingga berapa lama orang yang anda kasihi hendaknya menangisi kepergian anda, sebelum mereka melanjutkan kehidupan mereka dan dapat tertawa kembali?" Aku tidak ingin dilupakan tapi aku juga tidak ingin mereka berlarut-larut dalam kesedihan. Perasaan egois itu muncul kembali.

Akhirnya saya bisa melewati pertanyaan itu dan menemukan pertanyaan terakhir.

"Sudahkah anda merelakan kehidupan anda di dunia?"

R.A.I.N: Remembering An Irreplaceable Night (2)

Sebelum anda membaca ini, pastikan anda sudah membaca R.A.I.N Part 1.

14 Februari 2003,
Kemarin E sudah memberikan invitation card itu ke dia. Sepertinya dia tidak menduga acara ini hanya untuknya. That’s good. Aku begitu tidak sabar menunggu bel akhir sekolah padahal bel masuk pelajaran pertama baru saja berbunyi. Tiba-tiba seorang teman memberikan sekotak kado. ‘Titipan dari seseorang’, katanya. Could be her? Ternyata bukan dia, tetapi anonymous. Walaupun hanya 6 jam pelajaran, hari ini terasa lama sekali. Akhirnya jam pulang itu datang juga. Sesuai rencana, E akan datang ke rumahku jam 4 dan mengantar aku ke rumah S (poor me.. I didn’t have a car) sambil membawa beberapa barang dari rumahku. Sesampai di rumah S, S sudah bersiap-siap pergi ke Surabaya, dan tinggallah aku di sana. Waktunya bersih-bersih. Perlu waktu sekitar 2 jam untuk menyiapkan segalanya, mulai dari menyapu, menata lilin, dan mandi. Now it’s perfect.

Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Saat ini E, K dan dia sudah di perjalanan ke rumah S. Dia ditutup matanya sehingga tidak tahu akan dibawa kemana. Tidak lama kemudian, E mengirim SMS tanda dia sudah dekat. It’s show time, wish me luck.

Lampu sudah dipadamkan dan kini ruangan itu hanya diterangi remang-remang lilin-lilin kecil saja. Di balik pintu itu, dia masih tertutup matanya dan aku berdiri menunggunya masuk sambil membawa bunga spesial itu. Dag, dig, dug rasanya tidak karuan. E dan K mengantar dia ke ruangan itu dan membuka tutup matanya. Setelah itu mereka langsung kabur meninggalkan aku dan dia. Berdua.

Lagu ‘First Love - Utada Hikaru‘ memasuki intronya. Dan dia berusaha menyesuaikan matanya yang cukup lama merasakan gelap, kini harus melihat cahaya lilin. Dia bingung dengan apa yang dia lihat. Namun reaksinya tidak yang terlalu ‘wah’. Cukup mengherankan memang. Setelah dia melewati jalan setapak itu, aku menyerahkan bucket bunga itu dan menyuruhnya duduk.

Tenderloin special* (* = rasa tidak ditanggung) kubawa dari dapur ke meja makan, dan aku membuka botol Sparkling Grape yang sudah tersedia di meja. Sambil menikmati "steak" itu, aku dan dia membahas tentang ini semua. Dan dia cuma terheran-heran saja. Dia tahu dimana dia berada, karena S adalah teman baiknya dan dia pernah ke rumah ini sebelumnya.

Puncaknya adalah ketika makan malam selesai dan dia beranjak dari kursinya dan saat itu lagu ‘When A Man Loves A Woman‘ mengalun. Apakah ini sudah diatur? Jawabnya, sudah! :D I hold her from her back, and I say ‘ would you be {censored}…’
It’s a perfect moment. So… perfect.

I will let you decide the ending of this story by yourself. Still, let me remembering this irreplaceable night in the middle of the rain…

A memorable good from that night:

Pict194_1
Tutup botol Sparkling Grape itu masih  tersimpan dengan baik hingga sekarang dan akan selalu menjadi saksi bisu kejadian malam itu.

Thousand thank you to my friends who helped me beneath my wings. That night would never be existed without your supports, guys. Happy Valentine Day!

PS: Do you still remember that irreplaceable night.., Me?

R.A.I.N: Remembering An Irreplaceable Night (1)

Belakangan ini, hujan selalu menghiasi langit. Rasanya ada yang kurang seandainya satu hari saja jalanan tidak dibasahi air hujan. Dan seperti biasanya, aku mengamati hujan dari antara tirai jendela di kantor. Dari sinilah seringkali pikiran ini sempat-sempatnya melayang kemana-mana.

Beberapa jam lagi hari akan berganti menjadi 14 Februari. Orang menganggap hari itu adalah hari yang special, hari cinta kasih katanya. Yang sebenarnya adalah konspirasi besar-besaran dari penjual bunga, penjual coklat dan penjual kartu ucapan (belakangan, semua pihak ikut serta dalam konspirasi ini). Tapi ya sudahlah, dinikmati saja. Apalagi kalau ada yang bisa diajak merayakan bersama.

Hujan masih saja turun. Artinya, pikiran ini semakin punya banyak waktu untuk melayang-melayang. Dan aku pun melayang ke hari itu, remembering an irreplaceable night.

[ambil dulu camilan dan secangkir kopi untuk menemani anda melanjutkan membaca dongeng ini]

Kembali ke tahun 2003. Masa terindah dalam hidup, high school life. Aku buta. Tidak secara fisik, bukan juga secara mental. Pendek kata, in love. Sekitar seminggu sebelum V-Day, selagi hang out dengan teman-teman, muncul keinginan untuk merayakan V-Day yang spesial dan tidak terlupakan, A candle light dinner! Sweet? Not yet, makan malam di resto adalah hal biasa, lebih luar biasa kalau di tempat yang spesial juga.

Lokasi adalah hal yang paling krusial dari ‘project’ ini. Untungnya, S, teman sekelasku yang tinggal sendirian di Malang, kebetulan ada acara ke Surabaya. Sungguh baiknya dia, rumahnya boleh aku pinjam untuk beberapa jam. Itu lebih dari cukup. Berikutnya adalah waktunya untuk memikirkan hal-hal yang lebih detail. Misalnya: dekorasi, makanan, run-down. Dan lama-lama ini terdengar seperti acara orang mau married. Bedanya, kali ini tidak ada tamu. :)

Setelah mensurvei rumah S ini, muncul gambaran bakal seperti apa acara ini:
Map

Disupport oleh beberapa orang teman yang rela mengorbankan waktu dan property mereka, persiapan acara ini berlanjut ke step berikutnya.

Alat dan Bahan:
- 3 dozens Mini Candle (buat jalan setapak ke meja makan)
- Accessories Glow in the dark (ditempel di jendela)
- Exclusive Flower Bucket (buat dikasih)
- 2 CD’s contains of selected songs (buat menghidupkan suasana :) )
- 2 table candles (Ungu dan Pink; our favorite color)
- 1 Candle Holder (property of E)
- 1 bottle of Sparkling Grape (pengganti Wine; anak SMA ga mampu beli Wine)
- 2 Wine Glasses (paling tidak, gelasnya pakai gelas Wine; ambil dari rumah)
- 2 Tenderloin meats (kebetulan nyokap ada buat daging dibumbui)
- Ratna’s Special BBQ Sauce (sama seperti di atas)
- 2 Hotplates and Dinner Sets
- 1 Special designed Invitation card (ceritanya, dia dikasih undangan buat hari H nya)
- 1 black fabric (kain buat nutupin mata dia)

Setelah mengumpulkan alat dan bahan, berikutnya adalah tahap persiapan pada hari H. 14 Februari 2003 jatuh pada hari Kamis, yang artinya aku masih harus sekolah dulu paginya dan persiapan baru biasa dilakukan setelah pukul 2.

[btw, sepertinya sudah mulai kepanjangan, jadi disambung lagi di part 2. silahkan bungkus kembali camilan anda dan cuci gelas kopi anda atau kembali ke kerjaan anda yang terpending gara-gara baca blog ini.]

Shall We?

*10 Minutes Before ‘Are You?’*

This shopping mall is so beautiful. Christmas is all around. They even create snow falls. And I can’t believe the next thing suddenly happened. Accidentally, I see her standing in front of me. She is not alone, but with a guy. She smiles at me and I start to wear my smiley mask. "Congratulations!", I say. Some chit chat before they go to another direction. I am good at this role. To pretend that everything looks fine, and that I were very happy.

After they leave, I ask my friend, "Shall we go home now?"