Yang Putih atau Yang Hitam?

Seorang gembala sedang menggembalakan dombanya. Seorang yang
lewat berkata, “Engkau mempunyai kawanan domba yang bagus. Bolehkah saya mengajukan
beberapa pertanyaan tentang domba-domba itu?”

“Tentu,” kata gembala itu.
Orang itu berkata, “Berapa jauh domba-dombamu berjalan setiap hari?”
“Yang mana, yang putih atau yang hitam?”
“Yang putih.”
“Ah, yang putih berjalan sekitar enam kilometer setiap hari.”
“Dan yang hitam?”
“Yang hitam juga.”
“Dan berapa banyak rumput mereka makan setiap hari?”
“Yang mana, yang putih atau yang hitam?”
“Yang putih.”
“Ah, yang putih makan sekitar empat pon rumput setiap hari.”
“Dan yang hitam?”
“Yang hitam juga.”
“Dan berapa banyak bulu yang mereka hasilkan setiap tahun?”
“Yang mana, yang putih atau yang hitam?”
“Yang putih.”
“Ah menurut perkiraan saya, yang putih menghasilkan sekitar enam pon bulu setiap tahun kalau mereka dicukur.”
“Dan yang hitam?”
“Yang hitam juga.”
Orang yang bertanya menjadi penasaran.
“Bolehkah saya bertanya, mengapa engkau mempunyai kebiasaan
yang aneh, membedakan dombamu menjadi domba putih dan hitam setiap kali engkau menjawab pertanyaanku?”
Gembala itu menjawab, “Tentu saja. Yang putih adalah milik saya.”
“Ooo, dan yang hitam?”
“Yang hitam juga,” kata gembala itu.

Quoted from DOA SANG KATAK 2 (Anthony de Mello SJ)

Pikiran manusia membuat pemisahan-pemisahan yang bodoh, yang oleh Sang Kasih dilihat sebagai satu. Salah satunya adalah Agama.

No offence , but it’s true. An ingenuous opinion spoken by someone who ever failed in a relationship because of having difference in religion.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • LinkedIn
  • Live
  • Reddit
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
  • E-mail this story to a friend!

About the Author