Sesaat setelah kilatan cahaya itu, semuanya menjadi gelap. Semuanya menjadi sunyi. Dimanakah aku sebenarnya? Diantara gelap itu, samar-samar aku bisa melihat sebuah pintu. Di pintu tersebut terukir sebuah tulisan yang membuatku terperanjat. Begini bunyi tulisan itu: ‘Selamat, anda sudah mati. Silahkan lanjutkan perjalanan anda di balik pintu ini. Sekali lagi, selamat!’
Tak percaya semua ini, aku berusaha mengingat-ingat kembali apa yang terjadi. Yang kuingat adalah aku sedang menaiki motorku sendirian di tengah hujan. Jalanan tak begitu terlihat, dan tiba-tiba saja aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Ketika aku berusaha bangkit, dari arah seberang, sebuah mobil berkecepatan tinggi menghampiriku. Itulah hal yang terakhir yang aku ingat.
Setelah aku membuka pintu itu, yang kulihat adalah sebuah koridor yang begitu indah. Penuh dengan dekorasi layaknya istana. Aku membaca sebuah pesan yang tertera di hadapanku. "Selama anda berjalan, pikirkanlah jawaban dari pertanyaan yang akan lihat." Aku tak mengerti apa maksudnya dan kemudian mulai berjalan.
Tak lama kemudian aku melihat pertanyaan pertama di sebuah papan kecil di hadapanku. "Apakah anda merasa hidup anda indah? ". Pertanyaan yang aneh kataku dalam hati. Sambil berjalan, aku mulai memikirkannya. Setelah beberapa saat, aku melihat pertanyaan kedua, "Berapa kali anda mengampuni orang lain?". Dan seterusnya pertanyaan-pertanyaan lainnya muncul.
Setelah beberapa pertanyaan, aku merasa jenuh. Dan aku tidak memikirkan jawaban lagi ketika muncul pertanyaan, "Siapakah orang yang paling berjasa dalam hidup anda?" Namun, ketika aku tidak menentukan jawaban dari pertanyaan itu, yang kujumpai selanjtunya malahan adalah sebuah pesan, "Pikirkanlah dengan baik.". Mau tidak mau, aku pun memikirkannya kembali. Berbagai nama dan wajah orang bermunculan dalam pikiranku. Mulai dari orang tua, sahabat, rekan kerja, kuliah, teman masa kecil hingga pembantu di rumah.
Pertanyaan berikutnya membuatku berpikir lebih berat. "Hingga berapa lama orang yang anda kasihi hendaknya menangisi kepergian anda, sebelum mereka melanjutkan kehidupan mereka dan dapat tertawa kembali?" Aku tidak ingin dilupakan tapi aku juga tidak ingin mereka berlarut-larut dalam kesedihan. Perasaan egois itu muncul kembali.
Akhirnya saya bisa melewati pertanyaan itu dan menemukan pertanyaan terakhir.
"Sudahkah anda merelakan kehidupan anda di dunia?"













