Judul di atas bukan salah ketik, tapi memang begitu adanya. Mocha Flood, a special welcome ‘drink’ for The Jakartans (niru The Spartans) persembahan dari Langit. Melalui hujan semalaman sepanjang 14 jam lebih, Jakarta, a hell on earth, tidak mampu menyembunyikan lagi ke-neraka-annya. Air mulai menggenang di mana-mana. Tidak pandang bulu, hampir seluruh Jakarta tertutup air. Awesome!
Jalan Thamrin yang notabene adalah Jalan protokol di Jakarta juga tak terselamatkan. Alih-alih Presiden RI kita yang tercinta saja harus ganti mobil di tengah jalan. Untunglah lewat pemborosan APBN yang dilakukan, beliau bisa ganti mobil. Lain Presiden, lain cerita dengan si D.
D, karyawan swasta yang belum genap 1 tahun bekerja ini, berpikir dua kali untuk menerobos derasnya hujan dan genangan air yang menghadang. Maklumlah dia cuma bermodal Supra X. Setelah menunggu 2,5 jam sambil berharap hujan akan berhenti, akhirnya D nekat juga demi membuktikan profesionalisme, loyalitas dan dedikasi kepada perusahaannya. Mau muntah nulisnya….
Celana pendek, jaket anti air, sandal karet, jas hujan, everything is ready for the battle. D, yang juga berprofesi sambilan sebagai tukang ojek ini harus menjemput kliennya dulu di bilangan jalan Syahdan. Cipratan air dari mikrolet dan cucuran air genteng tidak membuatnya gentar melewati gang sempit sebuah Jalan dengan nama tersingkat di dunia, Jalan "U" (atau Jalan "Ugo" alias Jalan "U", Goblok!).
Penumpang sudah dijemput, dimulailah perjalanan panjang menuju kawasan Roxywood. Jalanan yang cukup padat dan genangan air sekitar 30cm cukup merisakukan Ksatria penunggang Supra ini. Air hujan mengurangi jarak pandang sehingga D harus ekstra hati-hati kali ini. No manuver, no speeding, just drive safely.
Di tengah perjalanan D mengecek keadaan penumpangnya, "Apa kabar, N?. "Ruar biasaaa!!", jawab N dengan antusias dan agak terpaksa. Setelah itu keadaan jalanan cukup normal. Halangan terbesar ada pada jarak 500 m dari kantor. Genangan air cukup tinggi menghadang. Kali ini D kehabisan pilihan, dia merelakan nasibnya pada motornya dan menerobos genangan itu. Mesin motor ini mendadak jadi berat. Tanpa menyerah, ditariknya sampai habis gas motor itu sambil dalam hati terus berteriak : "jangan mati… jangan mati.. ayo…!!". Dan setelah berjuang setengah mati akhirnya sampai juga di kantor. Phwew… lega rasanya…
Jam 11 baru masuk kantor. Sebuah rekor yang tidak pantas ditiru. Untung saja beberapa jam kemudian hujan berhenti. Tapi para Jakartans harus berurusan lagi dengan sisa-sisa genangan air yang tak kunjung turun. Seorang teman, terpaksa menginap di rumah temannya ketika pukul setengah satu pagi masih terjebak macet di tengah jalan.
Merasa cukup sial? Barangkali tidak. Beruntung malahan. Dibandingkan dengan yang mereka alami seperti di gambar ini:
atau ini :
-
Inilah harga yang harus dibayar ketika ingin mencari nafkah di Jakarta, selain jalanan yang super duper macet, Mocha Flood adalah satu hal lagi yang harus diatasi. Jika anda mampu memberi saya pekerjaan di kota lain yang tidak ada banjir dan macet serta gaji yang lebih manusiawi, PM saya secepatnya.
foto: doc Kompas & Jakarta Post.














Damn you.
You make me wanna write again.
Masa setiap minggu gwa harus mengunjungi cubicle 1×1m di Atrium Senen ini buat posting tulisan?
let’s write together like we did before.
two heads better than one you know.
wanna have http://www.ngemengabis2.com ? :lol
maq: ayo2 nulis lagi, biar bacaan gw makin banyak hehehe…